Mendulang Rupiah di Tengah Naiknya Suku Bunga

Sudah 7 bulan Bank Indonesia tetap menahan suku bunga acuan pada posisi 4,25%, dan pada tanggal 18 Mei 2018 BI telah menaikkan suku bunga 25 basic point ke posisi 4,5%. Selain suku bunga acuan , BI juga  menaikkan suku bunga deposito menjadi 3,75% dan suku bunga lending facility menaikkan 25 bps menjadi 5,25%.

Suku bunga acuan indonesia yang dahulu menggunakan BI Rate sejak agustus 2016 diganti menjadi  suku bunga 7 Day Repo Rate. Suku bunga 7-day Repo Rate  adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Sehingga kebijakan yang dibuat oleh BI akan berdampak ke beberapa insturmen-instrumen investasi.

Kenaikan suku bunga acuan ini bukan tanpa alasan, seperti yang dirasakan beberapa minggu kebelakangan ini, asing banyak yang mengalihkan dana investasinya dri negara emerging market ke negara AS karena tingkat imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun sejak Maret 2018 hingga 21 Mei memiliki rata-rata kurang lebih 2,8% setiap harinya. Ini merupakan dampak dari rencana dari The Fed yang akan menaikkan suku bunganya sebanyak 3-4 kali dalam satu tahun.

Sehingga asing mencatatkan net sell pada pasar modal indonesia sepanjang mei sebesar 7,15%. Bila diakumulasi dari awal tahun asing mencatatkan net sell sebesar Rp. 41,03 triliun.

Alasan dinaikkannya suku bunga acuan karena untuk menjaga stabilitas mata uang Indonesia, yang hampir 2 minggu ini mengalami pelemahan. Pada 20 Mei 2018 rupiah berada di level 14.149. Hal ini penyebab dari capital outflow  dollar, sehingga cadangan dollar dalam negeri menurun ke angka 124 miliar dolla AS per April 2018, angka ini turun 1,1 M dollar AS dibanding bulan Maret Penurunan cadangan devisa pada April 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

 

Lalu apakah pengaruh kenaikan suku bunga terhadap instrumen investasi?

Dengan adanya kenaikan suku bunga acuan pasti ada beberapa instrumen investasi yang terkena dampak terutama pada instrumen pasar uang seperti deposito. Apabila suku bunga naik maka BI juga akan menaikkan subu bunga depositonya. Meski investasi pada deposito terbilang aman namun hasil investasinya tidaklah besar.

Untuk Instrumen pasar modal , suku bunga yang naik akan mempengaruhi minat investor untuk berinvestasi di saham dan reksadana saham. Dalam sebulan IHSG turun sebesar 9%. Sehingga saham dan reksadana saham ini kurang diminati dibandingkan dengan instrumen pasar uang. Apabila ada yang beranggapan kalau investasi di saham dan reksadana saham itu banyak ruginya untuk saat ini, iya itu betul... karena prinsip investasi di saham adalah untuk investasi jangka panjang. Jadi wajar kalo kita hanya trading bisa-bisa hasilnya minus dalam kondisi sekarang ini. Namun ditengah harga saham banyak yang turun ini bisa menjadi momentum untuk mendapatkan saham dengan fundamental yang bagus dengan harga yang seang diskon.

Sementara investasi di obligasi, keuntungan yang didapat ketika berinvestasi di obligasi adalah kupon. Pada saat suku bunga naik maka imbal hasil (yield) obligasi juga akan naik artinya kupon obligasi akan naik mengikuti suku bunga acuan.

Kemudian pada investasi logam mulia ketika adanya kenaikan suku bunga tidak memberikan dampak yang signifikan. Karena emas termasuk investasi yang bisa aman untuk lindung nilai dan hasi investasi di rasakan dalam jangka waktu yang panjang. Jadi untuk membeli emas daam kondisi apapun sah-sah saja.

 

Lalu apakah instrumen yang paling diuntungkan ketika suku bunga naik?

Kenaikan suku bunga memang tidak langsung mendorong perbankan untuk menaikan bungan deposito dalam waktu dekat. Namun bagi manajer investasi yang menerapkan strategi deposito jangka panjang, akan memberikan keuntungan yang optimal.

Selain deposito, naikkan suku bunga akan berdampak pada reksadana pasar uang  terutama kenaikan return reksadana dan sangat cocok untuk jangka pendek. Kemudian reksadana pendapatan tetap karena kenaikan suku bunga juga berpengaruh terhadap yield obligasi, terutama Surat Utang Negara, dimana dalam dua bulanterakhir paling rendah berada di posisi 6,3%-7,2% untuk tenor 10 tahun.