Strategi Investasi Bagi Investor Reksadana

Author : Yulia Andita


Memiliki perencanaan keuangan untuk jangka pajang memang sangat penting, investasi reksadana merupakah jenis perencanaan keuangan yang bisa membantu anda untuk menambah penghasilkan di masa mendatang. Namun masih banyak orang yang masih bingung dalam memilih cara investasi reksadana apakah akan menggunakan strategi lump sum atau dengan investasi berkala. Berikut ini pertimbangannya

strategi investasi bagi investor reksadana

Investasi sekaligus

Sesuai dengan namanya, investasi sekaligus adalah cara investasi dengan cara menyetor dana dalam jumlah besar dalam satu periode. Misalkan saja Mr. A membeli reksadana dengan nominal sebesar Rp. 50.000.000 dan akan membeiarkan uang investasinya sampai Mr. A memutusukan untuk mencairkan uang investasinya.

Keunggulan dari strategi investasi sekaligus adalah memberikan hasil yang biasanya lebih besar dengan asumsi bahwa harga unit reksa dana/ Nilai Aktiva Bersih meningkat terus sehingga sangat cocok untuk investasi jangka panjang.

Namun ada beberapa hal yang harus kita perhatikan jika harga unit reksadana/ Nilai Aktiva Bersihnya mengalami penurunan sementara namun kita hanya berniat untuk berinvestasi jangka pendek. Ketika terjadi koreksi/penurunan harga itu bisa saja membuat hasil investasi lebih kecil dari modal awal saat kita investasi. Bisa saja kita mengalami kerugian karena salah menerapkan jangka waktu investasinya. Namun tidak semudah itu bisa memprediksi waktu yang tepat bahkan manajer investasi yang berpengalaman saja cukup sulit untuk melakukannya secara konsisten. Oleh karena itu, cara investais ini cocok bagi yang memiliki dana yang besar serta berorientasi jangka panjang dan investor yang agresif atau bisa dibilang siap menghadapi risiko penurunan harga selama waktu investasi.

 Baca Juga : Kondisi Investor yang Memungkinkan Melakukan Switching

 

Investasi Berkala

Sedangkan dalam investasi biasa dikenal dengan istilah Rupiah Cost Averaging, dimana investor akan membeli reksadana secara teratur atau berkala dengan jumlah nominal yang biasanya tetap setiap periode pembelian. Misalkan Mr. A ada bulan januari melakukan pembelian reksadana saham senilai Rp. 500.000 kemudian di bulan selanjutnya hingga terus menerus membeli dalam nominal yang sama. Ciri-ciri strategi adalah investor tidak melihat harga pasar unit reksdana/ Nilai Aktiva Bersih pada saat melakukan pembelian, baik harga sedang naik amaupun turun.

Kelemahan dari strategi investasi ini adalah investor mengabaikan waktu. Jadi investor tetap santai membeli reksadana  walaupun kondisi pasar naik atau turun, investor akan tetap fokus pada tujuan investasi. meski dalam kondisi naik atau turun investor akan tetap membeli reksdana.

Strategi investasi berkala ini sangat cocok bagi investor yang memiliki penghasilan tetap namun terbatas.

Di sisi lain, instrumen investasi reksa dana termasuk investasi aman jika diterapkan dengan strategi lumpsum ataupun berkala, terutama bagi para investor pemula.

Jika investor ingin memadukan strategi lumpsum sekaligus berkala pun tidak masalah. Caranya, pada saat pasar sedang koreksi besar-besaran maksudnya kondisi ekonomi tidak stabil atau bisa dilihat dalam chart terlihat terjadi penurunan yang cukup dalam, investor dapat menambah porsi investasinya. Sebaliknya, jika pasar dalam keadaan normal, cukup melakukan investasi berkala.