Skema Fluktuasi Harga Reksadana

Author : Yulia Andita

Tidak selalu investasi di instrument pasar modal nilainya akan terus naik tanpa adanya koreksi atau penurunan harga pada periode tertentu. Karena reksadana itu berisi berbagai instrument investasi dimana karakteristiknya pun berbeda-beda, sehingga jika salah satu instrumen harganya naik bisa jadi instrument lainnya ternyata harganya turun. Maka dari itu kita harus memahami bagaimana mekanisme fluktuatif harga reksadana karena akan berpengaruh pada pilihan investasi kita.

Meskipun reksadana yang kita transaksikan itu telah dikelola oleh Manajer Investasi, namun kita kita bisa menyerahkan seluruh kewajiban kepada Manajer Investasi. setidaknya ketika dana sudah dieklola oleh menenjer investasi namun kita juga harus memahami pembentukan portofolio reksadna tersebut.

Komponen-komponen reksa dana

Fluktuasi reksadana disebabkan oleh beberapa komponen dalam reksa dana diantaranya:

1. Asset

Asset dibagi menjadi 2 yaitu asset lancar dan juga asset tidak lancar, asset lancar adalah asset yang mudah untuk dicairkan menjadi uang tunai. Sedangkan asset tidak lancar adalah asset yang membutuhkan waktu yang lama untuk dicairkan menjadi uang tunai.

Dalam reksadana itu biasanya hanya ada asset lancar diantaranya

  • Saham
  • Uang tunai
  • Obligasi
  • Deposito

Sedangkan asset tidak lancar seperti gedung, tanah, dan juga kendaraab tidak masuk dalam perhitungan reksadana karena itu menyangkut operasional perusahaan bukan asset portofolio.

 

2. Pendapatan dan biaya

Pendapatan adalah keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan dari hasil penjualan produk. Dalam reksadana, pendapatan didapat dari biaya jasa pengelolaan reksadana yang dibayarkan oleh nasabah dan juga harga dari asset rekadana tersebut naik. Sedangkan biaya adalah kewajiban yang dikeluarkan selama proses produksi misalanya gaji karyawan dan beban operasional lainnya.

 

3. Utang dan Modal

Jika ana melihat laporan posisi keuangan perusahaan maka akan dibagi menjadi 2 yaitu sisi aktiva dan pasiva. Pada bagian aktiva berisi asset lancar dan tidak lacar sedangkan pasiva berisi total utang dan juga modal.

Pada reksadana ada utang berasal dari pajak dan utang piutang yang timbul ketika bertransaksi surat berharga.

Misalkan jika anda menjual reksadana saham, maka uang tidak lansung cair di hari itu juga. Maksimal harus menunggu 2 hari karena penerapan penyelesaian saham itu T+2. Maka dari itu timbul kewajiban atau utang.

Baca Juga : Investasi Reksadana Kena Potongan Biaya?

Simulasi harga reksadana

Jika komponen reksadana diatas kita kaitka dalam reksadana maka asset adalah nilai aktiva, pendapatan diperoleh dari pembagian deviden dan juga kenaikan harga saham, kewajban dan biaya digabung menjadi satu dan yang terakhir adalah modal kita sebut sebagai unit penyertaan.

skema fluktuasi harga reksadana

Dengan komposisi portofolio dibawah ini:

  1. 15.000  lembar saham ABCD di harga @6.000
  2. Investasi obligasi  senilai  20 juta dengan kupon sebesar 12%
  3. Deposito senilai 10 juta dengan bunga 5%

Reksadana ini dibentuk pertama kali pada taggal 1 november 2018 dengan nilai NAB/UP sebesar Rp. 1.000 sesuai dengan peraturan OJK, dan jumlah unit penyertaan sebanyak 120.000 unit.

Baca Juga : Yuk Nabung Itung-Itung Dapat Untung

Pada kasus pertama harga saham sama seperti pertama pembentukan

Dalam waktu 1 tahun setelah penerbitan reksadana harga saham tidak berubah namun obligasi memberikan kupon sebesar 12% yaitu Rp. 22.400.000 dan juga deposito sebesar Rp. 10.500.000 dan juga dikenakan biaya atau kewajiban sebebasr Rp. 5 juta berupa biaya manajemen dan juga biaya transaksi. Bisa dilihat di tabel bahwa harganya turun dari awal penerbitan. Hal ini bisa saja terjadi jika jumlah kewajibannya lebih besar dari pada pendapatan.

Pada kasus pertama harga saham naik

 Jika harga saham naik menjadi Rp. 8000 per lembar makan nilai aktiva menjadi Rp. 152.900.000 dengan jumlah biaya sebesar Rp. 3.000.000 maka nilai aktiva sebesar Rp. 149,9 juta. Sehingga jika investor membeli reksadana di harga Rp.1000 maka akan mendapat keuntungan 249,17 per unitnya. Bila dipersentasikan keuntungan mencapi 21%.

Pada kasus pertama harga saham turun

Jika harga saham turun menjadi Rp. 5.000 tiap lembar, maka Nilai Aktiva Anda akan menjadi Rp. 107,9 juta dan NAB adalah Rp104,9 juta. Bagi investor yang membeli reksa dana di harga Rp1.000, mereka akan kehilangan uangnya sebanyak 27% karena NAB/Up untuk saat ini telah menjadi Rp. 874,17.